Tragedi Anak-anak Jalanan

Pemerintah harus memperhatikan nasib anak-anak yang menggelandang di jalan-jalan. Dua kasus pencabulan, bahkan pembunuhan, terhadap anak jalanan, yang terungkap dalam sepekan ini, menunjukkan betapa rentan mereka terhadap kekerasan fisik dan seksual. Tak ada perlindungan memadai yang mereka dapatkan.

Aksi biadab itu dilakukan oleh Babe, 48 tahun, dan Abang Kacamata, 24 tahun. Babe mengaku menyodomi, membunuh, kemudian memutilasi tiga anak jalanan. Abang Kacamata telah 17 kali melakukan sodomi terhadap 14 anak jalanan berusia 10-14 tahun dalam waktu kurang dari setahun. Modusnya, mengajak korban jalan-jalan dan berenang.

Banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan seksual itu jelas mengejutkan. Dengan begitu gampang mereka dibujuk dengan secuil kesenangan untuk kemudian dikelabui demi kepuasan seksual pelaku. Anak-anak itu bahkan menurut saja ketika pelaku menjanjikan bahwa korban akan mahir berenang kalau disodomi di dalam air.

Tentu sulit mengharapkan pengawasan anak-anak itu dari sang orang tua yang juga menggelandang di jalan, sekalipun mereka tak bisa lepas dari tanggung jawab. Mereka bahkan sering kali memaksa sang anak ikut mencari nafkah dan membiarkannya sendirian “berkelahi” dengan kehidupan keras jalanan. Maka, begitu ada godaan kesenangan sedikit saja, anak-anak itu mudah tergiur dan teperdaya.

Semestinya anak-anak jalanan, yang dalam konstitusi termasuk sebagai “anak-anak telantar yang dipelihara negara”, diurus oleh pemerintah. Tapi, rupanya, pemerintah pusat maupun daerah kewalahan. Apalagi anak jalanan terus bertambah. Jumlah mereka membengkak delapan kali lipat pada 2008 dibanding pada 2000 yang “baru” mencapai 3,1 juta anak. Negara praktis tak mampu memenuhi hak-hak dasar anak-anak jalanan.

Panti-panti sosial memang tumbuh. Tapi, sebagaimana kasus di DKI Jakarta, panti-panti hanya sanggup menampung kurang dari seperlima dari 31 ribu anak yang menggelandang di jalan-jalan. “Pendidikan” panti ini pun tak cukup ampuh menghentikan mereka kembali ke jalan. Sudah bukan berita baru, di beberapa panti, para preman bahkan gentayangan memeras anak-anak yang semestinya dilindungi itu. Tak pelak, anak-anak itu pun berhadapan dengan satu kekerasan ke kekerasan lainnya.

Strategi Kota Solo dan Balikpapan, yang relatif berhasil menjauhkan anak-anak dari kekerasan jalanan, bisa ditiru daerah lain. Tak cuma panti sosial yang diandalkan, kampung-kampung di dekat anak-anak jalanan itu berkeliaran juga mendapat tugas “menjaga” mereka. Lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa dikerahkan untuk mengisi pengetahuan dan keterampilan mereka di taman-taman cerdas anak. Dengan perhatian penuh pemerintah, niscaya anak-anak itu perlahan bisa meninggalkan jalanan.

Pemerintah mesti mengupayakan berbagai cara untuk menyelamatkan anak-anak yang kurang beruntung ini. Menuntut hukuman yang seberat-beratnya terhadap pelaku pencabulan dan pembunuhan anak-anak jalanan juga merupakan salah satu bentuk perlindungan. Tak cukup dijerat dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, para pelaku seharusnya pula dijaring dengan Undang-Undang Perlindungan Anak agar mendapat ganjaran yang setimpal.

http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/01/14/krn.20100114.187690.id.html

About yulichulai

love and my parents make my life beatiful...
This entry was posted in umum, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s